Cyberjaya, Malaysia – Dalam upaya memperluas visibilitas dan reputasi riset di kancah internasional, para editor jurnal di lingkungan Multimedia University (MMU), Malaysia, mengikuti pelatihan intensif bertajuk "Peningkatan Tata Kelola Jurnal Untuk Akreditasi Internasional DOAJ, Scopus, dan Web of Science" pada 8–9 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di kampus MMU Cyberjaya ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif serta membagikan best practice dalam tata kelola penerbitan ilmiah bereputasi tinggi.
Pada hari pertama, fokus pelatihan diarahkan pada pendalaman kriteria serta standar indeksasi internasional bereputasi seperti Directory of Open Access Journals (DOAJ), Scopus, dan Web of Science (WoS). Para peserta diajak untuk:
Mempelajari Best Practice Tata Kelola Global: Memahami persyaratan etika publikasi, diversifikasi dewan editor, hingga standar substansi artikel.
Evaluasi Kesiapan Jurnal: Memeriksa dan memetakan secara langsung naskah serta performa jurnal-jurnal di MMU untuk melihat peluang indeksasi.
Penyusunan Strategi Manajemen: Membahas alur kerja penyuntingan yang efektif guna meningkatkan standar kualitas terbitan secara berkelanjutan.
Memasuki hari kedua, materi berfokus pada sisi teknis operasional dengan memanfaatkan platform Open Journal Systems (OJS). Para editor mempelajari strategi optimalisasi fitur-fitur OJS guna meningkatkan efisiensi tata kelola sekaligus memperluas daya temukan (discoverability) jurnal di mesin pencari dan basis data ilmiah dunia.
Selain berfokus pada peningkatan mutu internal penerbitan ilmiah, kegiatan ini membawa pesan penting mengenai pentingnya membangun kolaborasi lintas negara. Ke depan, diharapkan pelatihan ini dapat memicu inisiasi jaringan kerja sama yang erat antar pengelola jurnal internasional, khususnya antara institusi di Indonesia dan Malaysia, guna saling mendukung penguatan ekosistem publikasi ilmiah di kawasan Asia Tenggara.


Banyak mahasiswa menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk menyusun Bab 1 (Pendahuluan), khususnya bagian Latar Belakang Masalah. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah tulisan yang terlalu bertele-tele—membahas hal-hal umum yang tidak relevan sebelum masuk ke inti masalah. Latar belakang yang lemah akan membuat dosen pembimbing kehilangan minat membaca kelanjutan proposal Anda. Lalu, bagaimana struktur Latar Belakang yang ideal?
Bagi seorang dosen, tri dharma perguruan tinggi sering kali terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, jadwal mengajar yang padat, koreksi ujian, dan tumpukan tugas administratif kampus menguras energi harian. Di sisi lain, dosen dituntut untuk tetap produktif meneliti dan menerbitkan publikasi ilmiah. Akibatnya, draf penelitian sering kali terbengkalai dan mengalami writer’s block berkepanjangan. Bagaimana cara mengatasinya?
Banyak peneliti pemula yang terbiasa dengan pendekatan kuantitatif merasa cemas ketika melakukan penelitian kualitatif. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: "Berapa jumlah minimal informan yang harus saya wawancarai agar riset saya dianggap valid? Apakah cukup 5 orang?" Mari kita luruskan miskonsepsi ini. Dalam riset kualitatif, aturan mainnya bukan tentang kuantitas, melainkan kedalaman informasi.